Jumat, 07 April 2017
Arti cantik sesunggahnya
Sabtu, 04 Maret 2017
Kisah Penuh Hikmah
Memegang Amanah Dengan Teguh
Siang hari yang terik, matahari bersinar dengan ganasnya. Pada saat itu Umar bin Khattab RA pergi ke padang pengembalaan domba. Ia melihat ke sekitar, ada seorang anak pengembala sedang berteduh di bawah pohon kurma yang menjulang tinggi. Umar mendekati anak kecil itu seraya bertanya , "Hai anak muda, bolehkah akau membeli satu ekor kambing gemukmu dengan harga yang tinggi ?" Mendengar pertanyaan itu, si pengenbala kecil menjawabnya dengan tegas, "Wahai orang tua, kambing-kambing ini bukan milikku, tapi milik majikanku. Aku hanya diberikan amanah untuk memeliharanya dengan baik."
Umar membujuk si pengembala lagi, "Hai anak muda, kau bisa berkata kepada majikanmu bahwa seekor harimau telah memakan kambing itu, dan majikanmu tidak melihatnya, tentu dia akan percaya dengan perkataanmu. Kemudian, uang yang kau miliki itu bida kau belikan kambing lagi dan sisanya untuk kepentingan dirimu. Bukankah itu lebih menguntungkan ?"
Tapi reaksi si anak gembala ? Ia menjawab dengan tegas, "Wahai orang tua, walaupun majikanki tidak melihat perbuatan tercelaku, tapi Allah pasti mengetahuinya. Semoga Allah maafkan perkataan tuan !"
Melihat keteguhan iman si pengembala, hati Umar sangat senang. Ia pu bergegas menemui majikan si pengembala untuk membebaskannya dari perbudakan. Umar juga menghadiahkan seluruh kambing yang dibelinya lepada anak pengembala tersebut. Ia mendapatkan berkah berlimpah daei Allah karena menjaga amanah atas kepercayaan orang lain.
Hikmah cerita : Allah Maha Mengetahui apa yang dikerjakan setiap hambanya. Si pengembala bisa menjaga amanah orang lain. Akhirnya, ia mendapatkan berkahnya dengan terbebas daei perbudakan dan mendapatkan hadiah yang tidak terduga.
Rabu, 01 Maret 2017
Jangan Mengejek Dan Meremehkan Orang Lain
Sabtu, 25 Februari 2017
Pentingnya Menghindari Bergurau (Ai-Mazah) Berlebihan
Menghindari bergurauan berlebihan
Bercanda dan bersenda gurau adalah cara jiwa kita melepaskan kepenatan dan keletihan yang menderanya. Secara umum bersenda gurau adalah boleh asal tidak dilakukan secara berlebihan. Gurauan yang berlebihan akan membawa kepada perbuatan kurang berguna dan dapat menurunkan kewibawaan seseorang. Umar bin khattab berkata, "Barang siapa yang banyak bercanda, maka ia akan diremehkan atau dianggap hina. "
Said bin al ash berkata kepada anaknya, "Wahai anakku, janganlah bercanda dengan orang mulia,maka ia akan dendam kepadamu, jangan pula bercanda dengan bawahan maka nanti ia akan melawanmu. "
Senda gurau yang dilarang adalah senda gurau yang keterlaluan dan dilakukan secara terus menerus.
Senda gurau dapat menimbulkan banyak tertawa. Padahal banyak tertawa bisa mematikan hati, menimbulkan kedengkian dan menjatuhkan kehormatan serta kewibawaan. Sedangkan senda gurau yang sebatas ala kadarnya dan terlepas dari buruknya senda gurau diperkenankan. Sebagaimana yang disebabkan oleh Rasulullah saw: "Sesungguhnya aku bersenda gurau, dan tidak mengatakan kecuali kebenaran. "
Siapa yang dapat menjamin ketika bersenda gurau hanyalah mengatakan hal-hal yang benar saja? Padahal kita adalah makhluk yang sering kali berbuat kesalahan, terutama yang berkaitan dengan pembicaraan. Oleh karena itu, hendaknya kita menghindari senda gurau yang berlebihan, jika tidak bisa, maka diam adalah jalan utama untuk menyelamatkan diri dari kesalahan lisan.
Mengertikah kita tentang akhir kehidupan kita? Di surga atau di neraka? Jawabannya adalah tidak tahu. Karena itu kenapa kita masih sering tertawa yang keterlaluan demi sekedar mencari hiburan. Rasulullah saw yang dijamin masuk surga saja membatasi tertawanya, lalu kita yang tidak jelas mau masuk kemana ternyata mudah tertawa terbahak-bahak. Tidak malukah kita?
Kemudian bagaimana cara bercandanya Rasulullah saw? Bercandanya Rasulullah saw adalah bercanda yang tidak mengatakan sesuatu kecuali kebenaran, tidak menyakiti hati orang lain, dan tidak melampaui batas.
Perhatikan hadits berikut ini, tentu kita akan dapat mengerti pelaksanaan bercanda yang sesuai dengan syara'.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau bercanda dengan kami! " Maka beliau menjawab,"Walaupun aku bersenda gurau dengan kalian,sesungguhnya tidaklah aku berkata melainkan kebenaran." (HR At-Tirmidzi.Hadits ini dianggap hasan).
Al-Hasan berkata: "Seorang wanita tua datang kepada Rasulullah,lalu beliau bersabda kepadanya: "Wanita tua tidak bisa masuk surga." Mendengar perkataan beliau tersebut,wanita itu langsung menangis tersedu-sedu. Setelah itu beliau berkata, "Pada hari itu kamu tidak setua ini." Sebagaimana yang difirmankan Allah swt :
"Sesungguhnya kami menciptakan mereka dengan langsung,dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan" (Al-Waqi'ah:35-36). (HR. At-Tirmidzi, di dalam "Asy-Syama'il)
Kamis, 23 Februari 2017
Adab Berdo'a Yang Baik
Adab Berdo'a
Dalam mengemukakan permohonan dan do'a kepada Allah swt, hendaknya disertai dengan adab, diantaranya :
1. Menjauhi yang diharamkan, baik makanan, minuman dan pakaian.
2. Dengan ikhlas hati
3. Baik sekali bila didahului dengan sembahyang, karena ada hadits yang diriwayatkan oleh Abi Darda, bahwa Rasulullah saw bersabda : "Siapa berwudhu dengan baik kemudian sembahyang dua rakaat, setelah itu berdo'a, maka Tuhan akan memperhatikan permintaanya, diberinya dengan segera atau diberinya dengan terlambat. "
4. Mengucapkan kalimat tahmid (Alhamdu lillaahi rabbil 'alamiin), shalawat dan salam atas Nabi Muhammad saw pada awal dan akhir do'a.
5. Khusu' dan tenang
6. Dengan suara rendah dan mengharap sepenuh hati.
7. Mengulangi beberapa kali dengan tidak berputus asa.
8. Menghadirkan hati pada Allah swt.
9. Jangan berdo'a untuk berbuat dosa.
10. Jangan berkata : "Aku telah berdo'a, tetapi tidak diperkenankan Tuhan. "
Dipetik dari kitab TUHFATUDZ DZAAKIRIIN halaman 34, karangan Muhaddits (ahli hadits) Muhammad bin Ali Asy-Syaukami.