Sabtu, 04 Maret 2017

Kisah Penuh Hikmah

Memegang Amanah Dengan Teguh 

 

Siang hari yang terik, matahari bersinar dengan ganasnya. Pada saat itu Umar bin Khattab RA pergi ke padang pengembalaan domba. Ia melihat ke sekitar, ada seorang anak pengembala sedang berteduh di bawah pohon kurma yang menjulang tinggi. Umar mendekati anak kecil itu seraya bertanya , "Hai anak muda, bolehkah akau membeli satu ekor kambing gemukmu dengan harga yang tinggi ?" Mendengar pertanyaan itu, si pengenbala kecil menjawabnya dengan tegas, "Wahai orang tua, kambing-kambing ini bukan milikku, tapi milik majikanku. Aku hanya diberikan amanah untuk memeliharanya dengan baik."

        Umar membujuk si pengembala lagi, "Hai anak muda, kau bisa berkata kepada majikanmu bahwa seekor harimau telah memakan kambing itu, dan majikanmu tidak melihatnya, tentu dia akan percaya dengan perkataanmu. Kemudian, uang yang kau miliki itu bida kau belikan kambing lagi dan sisanya untuk kepentingan dirimu. Bukankah itu lebih menguntungkan ?"

        Tapi reaksi si anak gembala ? Ia menjawab dengan tegas, "Wahai orang tua, walaupun majikanki tidak melihat perbuatan tercelaku, tapi Allah pasti mengetahuinya. Semoga Allah maafkan perkataan tuan !"

        Melihat keteguhan iman si pengembala, hati Umar sangat senang. Ia pu bergegas menemui majikan si pengembala untuk membebaskannya dari perbudakan. Umar juga menghadiahkan seluruh kambing yang dibelinya lepada anak pengembala tersebut. Ia mendapatkan berkah berlimpah daei Allah karena menjaga amanah atas kepercayaan orang lain.



        Hikmah cerita : Allah Maha Mengetahui apa yang dikerjakan setiap hambanya. Si pengembala bisa menjaga amanah orang lain. Akhirnya, ia mendapatkan berkahnya dengan terbebas daei perbudakan dan mendapatkan hadiah yang tidak terduga.

Rabu, 01 Maret 2017

Jangan Mengejek Dan Meremehkan Orang Lain

Jangan Mengejek Dan Meremehkan Orang Lain



        Kadangkala seseorang membuat guyonan untuk meramaikan suasana dengan membuat lelucon tentang orang lain. Entah dengan cara menertawakan cara berjalan, cara bicara atau tingkah khasnya. Lelucon-lelucon ini di satu sisi mampu membuat orang lain tertawa tetapi di sisi lain juga dapat melukai perasaan orang yang dibuat bahan lelucon.
        Bisa jadi dia  hanya tersenyum kala mengetahui dirinya dijadikan bahan olok-olokkan meskipun dengan alasan guyonan. Namun, dalamnya hati orang siapa yang tahu. Diluar bolehlah ia bereaksi tetapi hatinya bergemuruh dalam kemarahan.
        Aeorang muslim yang baik, meskipun atas nama membuat guyonan, tidak akan mengolok-olok saudara seiman. Karena bagaimanapun guyonan yang menertawakan kekurangan dan kelemahan orang lain adalah tercela di sisi Allah swt.
        "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi  mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan janganlah pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diolok-olok itu lebih baik dari yang mengolok-olok     (Al-Hujurat : 11)
        Guyonan dengan cara memperbincangkan kekurangan dan kelemahan orang lain tergolong sebagai perbuatan mengejek orang lain meski alasannya untuk bercanda. Bercanda tetaplah bercanda tetapi isinya yang paling menentukan hasil akhirnya..
        Aisyah ra berkata, "Ketika aku menceritakan keadaan seseorang, maka Rasulullah Saw bersabda kepadaku, "Demi Allah, sesungguhnya aku tidak senang menceritakan keadaan seseorang meskipun aku mempunyai ini dan itu."   (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi. Hadits ini dianggap shahih)
        Abdullah bin Zama'ah berkata "Aku pernah mendengar Rasulullah khutbah, dimana dalam khutbahnya beliau menasehati para sahabat mengenai ketawa mereka yang disebabkan oleh kentut. Beliau bersabda "Mengapa salah seorang dari kalian menertawakan terhadap apa yang ia perbuat?"   (HR. Bukhari dan Muslim)
        Kata dilarang mengejek, menertawakan dan memandang remeh orang lain, sehingga orang yang diejek dan ditertawakan itu menjadi sakit hati karena merasa dirinya dihina, baik dengan cara menirukan       gaya bicaranya, suaranya, pakaiannya atau cara berjalannya. Sedangkan jika ejekan tersebut justru membuat orang yang diejeknya merasa gembira, maka ejekan itu termasuk dari bagian  senda gurau.
        Maka, apabila kita menghendaki surga sebagai tempat tinggal abadi, jauhilah perbuatan membuat guyonan yang isinya menertawakan kekurangan dan kelemahan orang lain. Sesungguhnya surga kelak juga akan memperlakukan orang-orang yang seperti ini sebagaimana ia mempermainkan orang lain.
        Mu'adz bin Jabal berkata : Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya dengan dosa yang telah ditaubatinya, niscaya ia tidak akan mati sehingga ia melakukannya".  (HR.At-Tirmidzi)
        Berhati-hatilah kita dalam bercanda. Bolehlah bercanda tetapi mengusahakan untuk menjaga perasaan orang lain jauh lebih baik. Bukankah Rasulullah Saw dan para sahabatnya telah memberikan contoh yang baik dalam bercanda yang benar menurut islam.